Kamis, 30 Agustus 2012

Thaharoh ( Bersuci )

Edisi N0: (5 ) Juli III- 2010 M/ Sya’ban II -1431 H

BAB I – THAHARAH ( bersuci ) dan persiapan shalat 

Pembahasan tentang thaharah ini terdiri dari tuju pasal : 
1. ( Bersuci ) Arti thaharah, dan urgensinya, jenis-jenis bersuci, macam-macam air, dan jenis benda yang dapat mensucikan 
2. ( Najis ), Macamnya, batasan najis, tatacara pensucian, najis, hukum mandi 
3. ( Istinja'), artinya, hukumnya, sarana yang digunakan, dan adab buang air 
4. ( wudlu ), dan segala sesuatu yang melingkupinya 
5. ( Mandi ), keistimewaannya, yang mewajibkan mandi, wajib, sunnah dan larangan mandi, yang diharamkan saat junub, mandi sunnah, hukum masjid dan kamar mandi. 
 
6.( Tayammum ), pengertiannya, syari'at dan sifat tayammum, sebab-sebab tayammum, rukun, tatacara dan sarat tayammum, sunnah, larangan dan yang membatalkan, serta hukum kehilangan 2 sarana thaharah
7.       ( Haidl, Nifas dan Istihaadloh )

Pasal 1 – Thaharoh
Pembahasan thaharah mengawali sholat, sesuai dengan sabda Rasululloh saw, yang artinya : " Kunci shalat adalah bersuci, dan permulaan shalat adalah takbirotul ihrom, dan penutupnya adalah salam " ( HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah ).
Dan dalam membahas " bersuci" ini ada 4 pokok bahasan:

Pertama : Makna thaharah dan perlunya bersuci :
Secara harfiah, tharah adalah: bersuci dan menghilangkan segala jenis kotoran, dan najis yang tampah secara inderawi, serta menghilangkan najis maknawi seperti aib dan maksiat.
Sedangkan dari sisi syari'at, thaharah adalah suci dari najis, baik secara nyata yakni berupa kotoran, maupun secara hukum yakni hadats ( yang membatalkan ), dan kotoran adalah segala hal yang dapat menimbulkan najis, sedangkan hadats adalah sebuah sifat syara' yang hanya dapat disucikan dengan bersuci.

Maka yang dimaksud dengan thaharah adalah = menghilangkan materi kotoran yang melekat di badan, serta mensucikan segala sifat hadats yang dapat menghalangi sahnya-sholat.
Dan menurut Jumhur Fuqoha' bahwa thaharoh secara syari'at adalah menghilangkan segala sesuatu yang menghalangi sah-nya sholat dari hadats atau najis dengan air, atau meningkatkan hukumnya dengan debu.

* sedangkan jenis thaharoh adalah : (1) Thaharah dari hadats khususnya di area badan, (2) thaharoh dari kotoran ( khobats) yang ada di badan, pakaian dan tempat sholat.
* Thaharoh hadats ada 3 macam :
1.      Hadats besar, dihilangkan dengan mandi
2.      Hadats kecil, dihilangkan dengan wudlu
3.      Pengganti keduanya karena udzur yaitu tayammum

* sedangkan thaharoh khobats ( kotoran ) ada tiga macam :
1.      Menyuci dengan air
2.      Mengusap
       3.   Memercik dengan air
 
Adapun perlunya seorang muslim bersuci karena akan mempengaruhi sholat yang dikerjakan,  maka dengan bersuci akan membuat sholat yang dikerjakan menjadi sah dan dapat diterima oleh Alloh karena di dalam sholat terjadi komunikasi antara manusia dan Alloh. Dan sesungguhnya dengan thaharoh itu seseorang telah suci ruh dan jasadnya.
Disamping itu juga memenuhi perintah Alloh dalam surah Al-Baqoroh 2/222 : Sesungguhnya Alloh mencintai orang yang taubat dan orang yang berthoharoh "

Kedua : Syarat wajibnya bersuci

Wajib membersihkan najis pada badan, pakaian dan tempat sholat adalah atas perintah Alloh dalam Al-Qur'an. Maka hukum tharoh menjadi wajib bagi mereka yang telah berkewajiban melaksanakan sholat, dengan syarat:
  1. Muslim ( Islam )
  2. Berakal
  3. Baligh (tanda baligh : mimpi basah, tumbunya rambut, Haidl, Hamil, usia cukup)
  4. Selesainya waktu haidl dan nifas
  5. Memasuki waktu sholat
  6. Tidak sedang tidur
  7. Tidak lupa
  8. Tidak terpaksa
  9. Ada air atau debu
  10. Kuasa melaksanakan thaharoh sebatas kemampuan.

Ketiga : Jenis-jenis sarana bersuci

  1. Dengan air : untuk wudlu, mandi jinabat.
  2. Dengan debu : untuk tayammum bila tidak ada air

Adapun secara garis besar, jenis-jenis bahan yang memungkinkan untuk thaharoh adalah :
1.      Air mutlak = seperti air hujan, air sungai, air laut, air sumur dan mata air, dengan persaratan harus mengalir, dalilnya adalah firman Alloh dalam surah al_Furqon/ 48:25 : Dan Aku turunkan dari langit air yang suci dan mensucikan ". serta hadits Nabi saw, : air itu suci dan tidak terkotori kecuali yang berubah warnanya, rasanya tau baunya " ( HR. Ibnu Majah )
2.      Barang cair bersih dan suci, seperti air embun, getah bening, air kelapa dan sejenis, minyak ( tidak bisa dipakai untuk bersuci, karena jumlahnya yang tidak memungkinkan terpenuhinya proses thaharoh )
3.      Debu, dengan mengusapkannya agar najis dan kotoran bisa hilang ( Dapat dipergunakan karena udzur dan alasan-alasan yang akan dibahas kemudian )
 
Keempat : Macam-macam air :

Macam air ada 4 : (1) Air suci dan mensucikan, (2) Air suci yang tidak mensucikan, (3) air mutanajjis ( najis ), (4) Air makruh

1.      Air suci dan mensucikan adalah air yang boleh diminum dan sah dipakai untuk thaharah, yakni : air yang jatuh dari langit ( hujan ), dan air yang terbit dari bumi. Dan yang tidak mempengaruhi kondisi air pada jenis ini adalah : (a) karena berubah tempatnya,(b) Berubah karena lama disimpan, (c) Berubah karena sesuatu di dalamnya ( d) berubah karena tanah yang suci, dan karena hal yang sulit dikendalikan.
2.      Air suci tetapi tidak mensucikan, dibagi menjadi 3 macam :
a.      Air yang telah berubah salah satu sifatnya karena bercampur dengan benda yang suci, selain perubahan pada no.1 di atas, seperti : kopi, teh, sirup dll.
b.      Air sedikit dan kurang dari 2 kulah ( panjang 1¼ hasta, dalam 1¼ hasta), dan air yang sudah dipakai untuk menghilangkan hadats dan najis
c.       Air pohon-pohonan dan air buah-buahan, seperti air nira, air kelapa dll.

3.      Air yang bernajis ( mutanajjis ), ada 2 macam :
a.      Sudah berubah salah satu sifatnya oleh najis, baik sedikit atau banyak
b.      Air bernajis, meskipun tidak berubah salah satu sifatnya, air ini bila sedikit ( kurang dari 2 kulah ) maka hukumnya najis, namun apabila banyak dan mengalir, maka suci dan mensucikan

4.      Air Makruh, yakni air yang terjemur oleh matahari dalam bejana selain bajana dari perak atau emas, air ini makruh untuk badan tapi tidak makruh untuk pakaian. Dan jenis air ini pengecualiannya adalah air yang tersimpan di tanah, seperti air sawah dan air kolam dll.

Demikian kajian tentang bersuci ( thaharoh ). Dan akan dilanjutkan dengan bahasan selanjutnya, tentang NAJIS ( hal-hal yang kotor ).

Semoga kajian ini mendapatkan barokah dari Alloh swt.

Kamis, 19 Januari 2012

Tartil, by : Mr. Yusron Kholid

Inilah tartil surah pendek, silahkan klik icon bila ingin mendengarkan, semoga bermanfaat, amiiiiin
video video video video

Rabu, 18 Januari 2012

Kajian Niat (4)



Edisi N0: (4 ) Juli II- 2010 M/  Sya’ban I -1431 H

1.      Keraguan dalam niat, perubahan niat dan menyatukan dua niat dalam satu jenis ibadah.
Keraguan niat dalam ibadah ( menurut Syafi’i dan Hambali ) mengakibatkan batalnya ibadah yang dilakukan, seperti ragu dalam sholat apakah sholat Dhuhur atau Ashar. Sehingga tidak mendapatkan pahala ( sebagaimana dijelaskan dalam al-Umm ).

Demikian juga keraguan ketika sedang melaksanakan sholat, apakah sudah niat atau belum, maka bila diteruskan sholatnya, maka tidak mendapatkan pahala dari shalat tersebut, ( menurut Hambali dan Syafi’i )

2. Perubahan Niat
Perubahan niat dalam pertengahan ibadah, seperti sholat, maka menurut Syafi’I batal atau tidak dibenarkan apabila niat itu dari sholat Fardlu ke sholat fardlu lainnya. Sedangkan apabila perbindahan itu dari sholat fardlu ke sholat sunnah, maka tidak menjadi persoalan atau boleh. Dengan dasar bahwa “ sholat Fardlu dengan niat yang benar, tapi belum memasuki waktu sholat tersebut, otomatis bisa berubah menjadi sholat sunnah ( mutlaqoh )

3. Menyatukan dua niat

Kalau penyatuan niat itu dalam wasail ( keterkaitan ) maka diperbolehkan, seperti Mandi Jinabat pada hari Jum’at sekaligus untuk menghilankan hadats. Sedangkan dalam ibdah mahdloh lainnya, tidak dibenarkan menyatukan dua niat dalam satu ibadah. ( menurut Hanafi )

Adapun menyatukan dua niat dalam ibadah sunnah, maka dibenarkan dan dua-duanya mendapatkan pahala, seperti niat dua rakaat sholat fajar dan Sunnah Tahiyyatul Masjid.

Meskipun niat dua amalan sunnah bisa disatukan, namun untuk amalan sunnah yang berbeda waktu dan ketetapannya, maka tidak dibenarkan, seperti niat sholat sunnah dhuha dengan sholat sunnah fajar, karena antara keduanya tidak terkait kebenaran waktunya. Namun apabila kedua amalan sunnah itu terkait dan tidak menyalahi ketetapan waktu dan kaifayah ( tatacara pelaksanaannya ) maka dipandang boleh dan akan mendapat pahala, seperti shalat Tahiyyatal-Masjid dan Sunnah Rawatib Qobliyyah.

Contoh dua amalan sunnah yang dapat disatukan adalah, niat puasa sunnah Arafah dan Puasa Hari senen ( menurut As-Suyuthi )

Penyatuan dalam niat ini apabila menyangkut ibadah muamalah, maka harus ditentukan yang dimaksud, seperti ungkapan suami  kepada istrinya : " Kamu sudah haram berkumpul dengan saya " dengan niat talak dan dhihar, maka si suami harus menentukan mana yang dimaksud.

4. Tujuan niat dan nilai yang terkandung di dalamnya
Ibnu Najim dan as-Suyuthi mengatakan bahwa tujuan niat adalah untuk membedakan antara ibadah dan tradisi/kebiasaan, dan untuk membedakan urutan dan tertib ibadah. Seperti di dalam wudlu dan mandi, maka bisa dibedakan antara niat thaharoh dan menyegarkan badan, demikian juga tidak makan dan tidak minum karena tujuan kesehatan, atau duduk di majlis ( pertemuan ) karena hendak istirahat, dll.
Atau juga untuk membedakan tertib jenis ibadah, apakah fardlu, sunnah atau wajib.

Nilai yang terkandung dalam niat adalah untuk menjadikan ibadah itu benar atau salah, mendapat pahala atau tidak. Dalam hal ini  niat itu wajib bagi setiap ibadah, dibagi menjadi empat (4) perkara :

1.      Haji, umroh dan zakat harus dilafal-kan, boleh berjamaah atau sendiri-sendiri
2.      Sholat fardlu, sholat Jum'at dan mandi wajib disyaratkan untuk " berniat"
3.      Wudlu dan Puasa tidak disyaratkan dengan lafal tertentu
4.      Tayammum harus diniati untuk mengganti wudlu ( tidak hanya fardlu )

5. Syarat-syarat niat
ada syarat umum dan syarat khusus, adapun syarat umum adalah :
a.       Muslim, haruslah yang mmempunyai niat adalah mereka yang beragama Islam, maka tidak sah niat orang kafir.
b.      Tamyiz, yakni yang dapat mebedakan antara yang benar dan yang salah, termasuk di dalam " mumayyiz" adalah berakal. Namun dalam hal tertentu, seorang wali boleh meniatkan yang di bawah perwaliannya, seperti dalam haji dan memandikan jinabat anaknya yang haid.
c.       Memahami apa yang diniati, maka orang yang tidak paham apa yang diniati gugurlah/ batal-lah ibadah yang dilakukan.
d.      Tidak memutus niat dengan yang lain hingga akhir pelaksanaan yang diniati,  sehingga ibadah yang dilakukan dengan niat menjadi batal dan tidak sah, apabila seseorang kemudian " menjadi murtad ". Demikian juga apabila di tengah-tengah wudlu seseorang memutuskannya.

Adapun syarat khususnya adalah : bahwa dalam masing-masing jenis ibadah telah ditentukan syarat sah dan rukunnya, jadi yang dimaksudkan dengan syarat khusus dalam biat adalah terkait dengan syarat ibadah tersebut, seperti sholat yang syarat sahnya antara lain " memasuki waktu shalat " dan lainnya, yang akan di bahas pada masing-masing bab yang membahas tentang ibadah-ibadah tersebut.

6. Niat dalam ibadah, apakah merupakan syarat atau rukun ?
sebagaimana kita pahami, perbedaan syarat dan rukun adalah bahwa rukun merupakan sesuatu yang menjadi syarat kesempurnaan suatu ibadah yang terpadu dengan ibadah tersebut dan tidak dipisahkan, sedangkan syarat adalah  sebagai kelengkapan dan kesempurnaan dalam sebuah ibadah tapi terpisah dari ibadah itu sendiri, seperti wudlu menjadi syarat sah-nya sholat.

Dan dalam hal " niat " menurut Ibnu Najim dan as-Suyuthi merupakan syarat sahnya ibadah dan bukan termasuk rukun, demikian juga menurut Hambali dan Maliki. Namun menurut Syafi'i, niat merupakan rukun ibadah sehingga harus menyatu dengan rangkaian ibadah tersebut.

Dalam hal ini, dijelaskan oleh para Ulama Fiqih bahwa disunnahkan bagi mereka yang akan beribadah untuk berniat, meskipun letak niat itu di dalam hati, namun apabila diikuti dengan pengucapan yang bertujuan untuk menyatukan antara pekerjaan lisan dan hati, maka itu lebih utama.

Yang disepakati oleh mayoritas Ahli Fiqih dalam hal niat adalah : wudlu, tayammum, Mandi, sholat,  puasa, I'tikaf, Zakat, Haji dan Umroh, Berjanji atau bersumpah, Penyembelihan hewan,  Berburu binatang, Membaca Al-Qur'an


Demikianlah bahasan tentang  " niat" yang telah dibahas secara tuntas. Semoga ilmu yang kita dapatkan manjadi ilmu yang manfaat dan maslahat dunia dan akherat dan Semoga Alloh menerima amal kita semua, amin yaa rabbal 'aalamiin.

Sedangkan pada pertemuan mendatang akan dibahas tentang FIQIH IBADAH, yang antara lain membahas tentang :
1.      Thaharoh ( bersuci )
2.      Sholat
3.      Puasa dan I'tikaf
4.      Zakat dan macam-macamnya
5.      Haji dan Umroh
6.      Iman dan Nadzar
7.      Makanan dan Minuman
8.      Binatang sembelihan, Aqiqah dan khitan
9.      Berburu dan penyembelihan.




Kajian Niat (3)



Edisi N0: (3 ) Juli I- 2010 M/  Rajab IV -1431 H

è [ 1 ] --- Posisi niat
Menurut kesepakatan para Ahli Fiqih ( ittifaq Fuqoha' ), letak dan posisi niat adalah di dalam hati ( wajibnya ), jadi tidak cukup dengan lisan saja, dan bukan pula hanya tertumpu pada pengucapan saja.
Namun menurut Jumhur Fuqoha' ( mayoritas Ahli Fiqih ) kecuali Maliki, bahwa " pengucapan" niat dengan lisan hukumnya sunnah, hal ini karena membantu hati dalam merealisasikan niat tersebut. Agar pengucapan dan pelafalan itu membantu " daya ingat", sedangkan Maliki tidak memandangnya sunnah karena tidak manqul dari Nabi saw.

Dan niat itu bersemayam di hati, karena sesungguhnya niat itu sama artinya dengan ikhlas, dan ikhlas itu adanya hanya di hati, sehingga niat akan semakin kokoh apabila digabungkan antara : " terbetik dalam hati " dan " dilafalkan dengan lisan ".

Terjadinya perbedaan pandangan bahwa niat cukup di dalam hati dan perlu dilafalkan adalah :
  1. Bahwa tidak cukup niat itu dilafalkan saja tanpa didasari dengan kesungguhan hati sesuai dengan firman Alloh dalam surah al-Bayyinah: 98/5., dan dari ini muncul bahasan :
sehingga niatan di dalam hati itu lebih utama dibandingkan dengan pelafalan, sehingga jikalau dalam berwudlu seseorang telah terdetik niat dalam hati, namun melafalkannya untuk mensucikan, maka wudlunya sah. Demikian juga saat dalam hati terbetik niat melaksanakan shalat dhuhur, namun dalam lisan melafalkan niat shalat ashar, maka sah sholat dhuhurnya .

Dijelaskan dalam kitab Hanafiyah ( " al-Qoniyyah wal Mujtabaa " ) : Barangsiapa yang tidak mampu menghadirkan hatinya dalam berniat atau ragu-ragu dalam berniat, maka cukup dengan melafalkan secara lisan, dalilnya dalah firman Alloh dalam surah al-Baqoroh : 2/286.

Apabila ucapan lisannya terlanjur berjanji/ sumpak kepada Alloh swt, tanpa sengaja, maka menurut Jumhur kecuali Hanafi adalah tidak " terjadi" sumpah dan janjinya, karena merupakan sumpah " gurauan". Namun menurut Hanafi hal demikian tetap terjadi sumpah dan janjinya dan berhak dikenai kaffarat apabila melanggarnya, karena menurutnya dalam hukum asal tidak ditemukan " hukum sumpah gurauan ". sedangkan Jumhur memandang bahwa sunpah yang " berlaku " adalah sumpah yang diucapkan dengan kalimat sumpah, seperti : Wallohi, Balaa Walloohi, atau dengan membaca al-Qur'an. Dan kesimpulannya bahwa dalam hal talak dan ila' yang berlaku adalah " ucapan lisan " tanpa harus didasari dengan " betikan di dalam hati ", sehingga apabila terucap kalimat talak dan atau ila' meski tanpa didasari niatan hati maka hukumnya telah berlaku.
b. Niat tidak selalu disyaratkan dengan pelafalan, khususnya dalam ibadah sosial yang memang tidak memerlukan pelafalan. Seperti dalam membangun masjid, dalam bersumpah untuk menghindari melakukan sesuatu, atau talak yang diikuti kalimat " Insya Alloh "., namun dalam mu'amalah tertentu disyaratkan adanya pelafalan, seperti dalam Nikah, Talak. cerai dan rujuk, dalam jual beli dan dalam akad ijab qabul yang lain.
Dalam hal bermaksiat, Subki dan kawan-kawan mengurutkan dalam 5 tingkatan :
1.      Hajiz, yakni betikan dalam hati, tidak berdosa karena belum terlaksana
2.      Khothir : yang terdetik dalam hati dan mampu untuk dilakukan namun tidak dilakukan
3.      Haditsun-nafs ( bisikan jiwa ) yakni antara melakukan dan tidak melakukan
4.      al-Hamm ( keinginan yang  kuat ). Bisa terjadi dan bisa tidak terjadi
5.      al-'Azmu ( dorongan yang kuat ), untuk melakukan

è [ 2 ] Waktu Berniat
Dalam hukum asal secara umum bahwa waktu untuk berniat adalah pada awal melakukan ibadah badaniyah ( secara fisik ). Seperti dalam wudlu adalah pada awal melakukan rangkaian ibadah wudlu, ( saat membasuh tangan : menurut Hanafi ) meskipun rukun wudlu adadalh membasuh wajah, namun bila niat di saat membasuh tangan agar mendapat pahala mulai saat membasuh tangan tersebut. Dan boleh juga berniat sebelum berwudlu dalam tenggang waktu yang tidak lama, apabila terlalu lama maka tidak mendapat pahala.

Menurut Syafi'i dan Hambali, lebih baik diniati menghilangkan hadats dalam setiap gerakan dalam wudlu.
Dan di dalam mandi maka niatnya harus jelas apakah untuk menghilangkan jinabat, menghilangkan hadats besar atau niat " membolehkan yang dilarang " dan dilakukan sebelum mengguyur badan dengan air.

Sedangkan dalam tayammum, maka niat menjadi fardlu menurut 4 imam madzhab. Akan tetapi mereka berbeda di dalam menempatkan posisi niat; apakah sebelum menepuk debu, apa sebelum mengusap wajah, yang jelas harus " berniat ".

Adapun dalam shalat, maka para imam madzhab berpendapat sebagai berikut :
  1. Hanafi adalah sesaat sebelum takbirotul ihrom tanpa di sela oleh pekerjaan lain seperti makan, minum dan lain sebagainya.
  2. Syafi'i adalah bersamaan antara niat dan takbirotul ihrom
  3. Maliki, saat takbirotul ihrom atau sebelumnya pada jarak waktu yang tidak terlalu lama.
  4. Hambali, boleh sebelum takbir dengan jarak watu yang tidak terlalu lama
Kesimupulannya : bahwa niat sholat adalah berbarengan dengan takbir atau sebelumnya dalam batas waktu yang tidak terlalu lama.

Adapun yang disunnahkan dalam berniat :
1.      Puasa, boleh berniat lebih awal, yaitu sejak terbenam matahari sampai sebelum fajar
2.      Haji, letak niatnya adalah sebelum melaksanakan rangkaian haji
3.      Zakat maal dan fitrah, boleh diawalkan niatnya seperti dalam puasa
4.      Menjama' Shalat atau qashar, niatnya pada shalat yang pertama, namun Syafi'i membolehkan diantara dua shalat yang dijama' atau diqashar.
5.      Menyembelih binatang qurban, boleh lebih awal atau saat menyerahkan kepada wakilnya
6.      Bersumpah, waktunya adalah sebelum selesai sumpahnya.

è [ 3 ] Tatacara niat

Berniat itu dimaksudkan untuk membedakan antara pekerjaan atau ibadah satu dengan yang lainnya, baik dalam ibadah khusus ( mahdloh ) atau dalam ibadah umum ( ghoiru mahdloh ) atau bahkan dalan adat tradisi ( kebiasaan ). Sehingga maksud niat dalam ibadah adalah untuk membedakannya dengan adat tradisi atau untuk membedakan posisi satu ibadah dari yang lainnya, seperti wajib dengan sunnah dan lain sebagainya.

Seperti dalam berwudlu, maka diniati untuk membolehkan sholat dan menghilangkan najis, maka sah-lah wudlunya, namun apabila diniati yang lain, maka tidak sah.

Dan dilam sholat, urutannya adalah yang wajib ( fardlu ) dan yang sunnah, seperti sholat fardu 5 waktu dan sholat jenazah. Dan sholat sunnah ada yang mengikuti wajib ( rawatib ), shalat witir, shalt 2 hari raya ( ied ), kusyuf, istisqa, tarwih dan muthlaqah.
Dalam shalat fardlu, maka wajib menyebutkan jenis sholatnya agar dapat membedakan dengan jenis sholat lainnya ( Subuh, dhuhur, ashar, maghrib dan isya' ).
Dan dalam sholat sunnah maka wajib menyebutkan jenis shalat sunnahnya, seperti shalat sunnah witir, tarwih, istisqo dan lain sebagainya. Adapun dalam shalat sunnah mutlaqah boleh tidak menyebutkan jenisnya karena tidak ditentukan waktu dan sebab melaksanakannya ( seperti awwabiin, taubat, birrul waalidain, lailatul qodr dsb ).

Dan secara garis besar, para imam madzhab mensyaratkan penyebutan tujuan dan kondisi pekerjaan ibadah, seperti antara haji dan umroh. Antara zakat, sodaqoh dan infaq, atau dalam penjelasan tentang ibadah yang dilakukan, seperti dalam shalat dhuhur maka yang perlu diniatkan adalah : jenis shalat ( dhuhur ), jumlah rakaat ( empat rakaat ), menghadap kiblat, tujuannya adalah mencari ridlo Alloh ( lillaahi ta;ala ) ; atau dalam kalimat :

أُصَلِّى فَرْضَ الظُّهْرِ أَرْبَعَ رَكَعَـاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لِلَّهِ تَعَالَى

Adapun di dalam ibadah lain yang harus berniat adalah : i;tikaf, haji, umroh dan lain sebagainya.

Demikianlah bahasan tentang  " Posisi niat, waktu niat dan Tatacara niat"
Semoga ilmu yang kita dapatkan manjadi ilmu yang manfaat dan maslahat dunia dan akherat dan Semoga Alloh menerima amal kita semua, amin yaa rabbal 'aalamiin.